Link

Login Form






Lupa Password Anda?
Anda belum memiliki akun? Daftar

Syndicate

Berita
MODIFIKASI ALAT PENGIRIS KERIPIK MULTIGUNA UNTUK MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS USAHA KECIL MENENGAH (UK
Buletin Balitbangda Provinsi Lampung
15 February 2010

Panji Nugroho Putro dan Puji Wiyono (Teknisi UPT Produksi dan Jasa, Politeknik Negeri Lampung)

ABSTRAK

Usaha pengolahan keripik pisang dan keripik singkong saat ini telah menjamur dan cukup berperan nyata menggerakkan perekonomian masyarakat. Salah satu tahapan penting pada proses pengolahan keripik pisang dan keripik singkong adalah tahapan proses pengirisan. Dalam rangka peningkatan produktivitas usaha pengolahan keripik pisang dan keripik singkong diperlukan upaya peyediaan peralatan pengiris dengan karakteristik: harga alat terjangkau, skala produksi cukup tinggi, dapat berfungsi multiguna, dan menghasilkan produk keripik pisang dan keripik singkong dengan kualitas baik dan seragam. Hasil pengujian kinerja menunjukkan bahwa alat pengiris keripik hasil pengembangan dapat berfungsi multiguna, memiliki skala produksi hingga 40 kg/jam, dengan tingkat keseragaman produk hasil pengirisan tinggi Hasil analisis teknis ekonomis menunjukkan bahwa dengan harga sebesar Rp 3.000.000, penggunaan alat mampu meningkatkan keuntungan pengusaha sebesar Rp 3.042.675,- per bulan. Selain akan meningkatkan produktivitas usaha, penggunaan alat pengiris multiguna diharapkan akan mendukung program ”Visit Lampung Year 2009”, dan berdampak nyata bagi upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat. ----------------------------------------------------------------------------------- Kata kunci : Keripik,, Alat Pengiris Multiguna, Produktivitas UKM

 
PENINGKATAN PENDAPATAN BUDIDAYA CABE DENGAN POLA TANAM VERTIKULTUR SISTEM TETES*)
Buletin Balitbangda Provinsi Lampung
15 February 2010

Sri Widarti

Penyuluh Pertanian Kecamatan Baradatu Kabupaten Way Kanan

 

ABSTRAK

 

Budidaya tanaman cabe memiliki prospek yang cerah untuk dikembangkan di daerah Lampung, mengingat tingginya permintaan masyarakat terhadap produk ini.  Oleh sebab itu, pelaksanaan budidaya tanaman cabe dapat meningkatkan pendapatan masyarakat, petani khususnya.  Namun, keterbatasan lahan yang tersedia menjadi kendala yang dirasakan masyarakat.  Oleh karena itu, perlu adanya teknologi pertanian yang mampu meningkatkan produksi perunit tanam. 

Salah satu solusinya adalah dengan pola tanam vertikultur.  Arah perkembangan pola tanam ini yang mengarah vertikal/keatas yang dapat memaksimalkan penggunaan lahan.  Kemahan pola tanam vertkultur adalah pendistribusian air dan unsur hara yang tidak merata, dapat diatasi dengan sistem pengairan tetes.  Penelitian ini bertujuan untuk memperbanyak jumlah tanaman cabe yang dapat ditanam pada satu unit lahan, sehingga pada akhirnya dapat meningkatkan pendapatan dari budidaya tanaman cabe.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola tanam vertikultur yang dilakukan pada lahan 5 x 5 m, menghasilkan 294 unit tanam, sedangkan pada pola konvesional hanya 96 unit tanam.  Hal akan mempengaruhi produksi tanam dan pada akhirnya keuntungan yang akan diperoleh.  Keuntungan Pola vertikultur sistem tetes adalah Rp. 2.161.600 (panen I) dan Rp. 2.841.600 (panen II), sedangkan dengan sistem konvensional hanya Rp. 823.600 (panen I&II).

-----------------------------------------------------------------------------------

Kata Kunci: Budidaya, Cabe, Pola Tanam, Vertikultur, Sistem Tetes

 
TEKNOLOGI PENGOLAHAN YOGHURT SIRSAK SEBAGAI MINUMAN PROBIOTIK*)
Buletin Balitbangda Provinsi Lampung
15 February 2010

Samsul Rizal

Jurusan Teknologi Hasil Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung

Jl. S. Brojonegoro No. 1 Gedong Meneng, Bandar Lampung

 

ABSTRAK

Yoghurt merupakan pangan yang manfaatnya besar sekali bagi kesehatan karena mengandung bakteri hidup sebagai probiotik, yaitu mikroba yang menguntungkan bagi mikroflora dalam saluran pencernaan.  Yoghurt juga dapat menghambat bakteri patogen, sebagai antikanker, meningkatkan kekebalan tubuh, melancarkan buang air besar, dan mencegah diare.  Namun konsumsi yoghurt di Indonesia masih sangat terbatas karena harganya masih dinilai cukup mahal bagi kebanyakan masyarakat.  Hal ini disebabkan yoghurt dibuat dengan bahan dasar susu sapi. Oleh karena itu pembuatan yoghurt dari buah sirsak menjadi salah satu alternatif penyediaan minuman probiotik yang lebih murah.

Penelitian mengenai pembuatan yoghurt dari bahan dasar nabati selain susu sapi dan potensinya sebagai probiotik telah dilakukan dan hasilnya membuktikan bahwa yoghurt dapat dibuat dari bahan lain selain susu sapi, termasuk dari buah sirsak.  Pengolahan minuman yoghurt probiotik dari buah sirsak ini memiliki prospek dan manfaat bagi peningkatan pendapatan masyarakat. Karena teknologi pengolahan yoghurt dari buah sirsak cukup murah dan mudah untuk diterapkan di masyarakat. Selain bahan baku mudah didapatkan dan dapat bervariasi dari berbagai bahan nabati seperti buah sirsak, jeruk, nanas, kulit nanas, dan kacang-kacangan, peralatan dan perlengkapan yang digunakan juga tidak sulit untuk didapatkan atau dibuat secara sederhana.  Selain itu, secara teknis, teknologi pengolahan yoghurt mudah dilakukan dan tidak membutuhkan keahlian khusus.

Dari aspek pemasaran, bila produk ini dipromosikan dengan baik dan tepat, dikemas dengan label yang dapat menonjolkan sisi manfaatnya bagi kesehatan dan ditunjang dengan harganya yang relatif lebih murah dibandingkan dengan yoghurt susu, serta dibantu dengan peran serta pemerintah, produk ini diprediksi dapat menarik minat masyarakat.

------------------------------------------------------------               

Kata kunci: Yoghurt, Sirsak, Minuman Probiotik

 
<< Mulai < Sebelumnya 1 2 3 4 5 6 Berikutnya > Akhir >>

Hasil 1 - 4 dari 21
Advertisement

Agenda Kegiatan

« < March 2010 > »
S M T W T F S
28 1 2 3 4 5 6
7 8 9 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30 31 1 2 3

Polls

Bagamanakah Peran Serta Balitbangda Terhadap Pembangunan Provinsi Lampung ?
 

Who's Online